Jumat, 21 September 2012

Berpikir dalam Psikologi Pendidikan Islam

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sumber dari kepribadian seseorang berada pada pemikirannya, bila pemikirannya selalu mencari jalan keluar atau pemecahan maka manusia tersebut dikatakan pribadi yang dewasa, sehingga tutur kata dan perbuatannya mencerminkan manusia berintelektual. Anjuran untuk berpikir ini dalam al Qur’an sebenarnya sudah tersirat, hal ini jika kita benar-benar ingin memanfaatkan fitrah kemanusiaan yang telah diberikan Allah Swt kepada tiap-tiap manusia. Akan tetapi bagi yang tidak memanfaatkan fitrah kemanusiaannya maka Allah Swt akan mengancam orang-orang yang tidak memanfaatkan fitrahnya tersebut. Allah Swt Berfirman:                     •  191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. ( Al imron :191) Oleh karena itu manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki kemampuan berpikir dengan tingkat yang reletif berbeda. Jika demikian, yang perlu diupayakan dalam proses pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini, dan bukannya melemahkannya. Oleh karena itu para pendidik hendaknya lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian pengertian-pengertian atau konsep-konsep kunci yang fungsional agar mendorong subjek didiknya mengembangkan kemampuan berpikir mereka. Pembelajaran seperti ini akan menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan kesimpulan-kesimpulannya secara mandiri. Bila di lihat dari aktifitas berpikir itu sendiri, dapat kita lihat bahwa dalam berpikir itu pertama membutuhkan adanya fakta, hal yang jadi objeknya adalah nyata, bisa berupa benda ataupun yang lainnya, kedua membutuhkan adanya indra, bisa berupa indra penglihatan (mata), pendengaran (telinga), penciuman (hidung), pengecap (lidah), dan peraba (kulit), ketiga membutuhkan adanya otak untuk berpikir, tentunya otak disini adalah otak yang normal/tidak terganggu, yang bisa di gunakan untuk berpikir, keempat adanya informasi sebelumnya, ini juga merupakan hal penting dalam proses berpikir, karena informasi sebelumnya ini akan menjadi faktor penentu pada kesimpulan. misalkan di hadapan kita ada dua buah benda (fakta), misal benda 1 dan benda 2, kemudian ada suatu pertanyaan "apa nama kedua benda tersebut?" maka segera mata (indra) kita melihat terhadap benda tersebut, kemudian selanjutnya otak kita akan segera berpikir apa benda yang ada di hadapan kita tersebut, dalam pengambilan kesimpulan, setiap orang akan berbeda - beda, si A menyebutkan bahwa benda 1 adalah koran dan benda 2 adalah komputer, dan si B menyebutkan benda 1 itu majalah dan benda 2 itu TV, hal ini dikarnakan adanya pengaruh informasi sebelumnya. si A akan tetap menyebutkan benda 1 itu koran maski pada kenyataannya itu adalah majalah, begitupun si B akan tetap menyebutkan bahwa benda 2 itu TV meski pada kenyataannya adalah komputer. Dari paparan diatas bisa kita simpulkan bahwa berpikir itu adalah suatu proses transfer/memindahkan fakta(benda) melalui indra, ke otak untuk kemudian di olah dan di hasilkan data sesuai dengan informasi yang di peroleh sebelumnya. B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang menjadi dasar penulisan makalah ini adalah : 1. Bagaimana pengertian berpikir ? 2. Bagaimana proses berpikir ? 3. Bagaimana cara berpikir kreatif ? 4. Bagaimana metode berpikir Islami ? C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan yang menjadi dasar penulisan makalah ini adalah : 1. Untuk mengetahui pengertian berpikir. 2. Untuk mengetahui cara atau proses berpikir. 3. Untuk mengetahui dan mempelajari berpikir kreatif. 4. Untuk mengetahui metode berpikir Islami. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Berpikir Mengenai soal berpikir ini terdapat beberapa pendapat, diantaranya ada yang menganggap sebagai suatu proses asosiasi saja; pandangan semacam ini dikemukakan oleh kaum Asosialist. Sedangkan Kaum Fungsionalist memandang berpikir sebagai suatu proses penguatan hubungan antara stimulus dan respons. Diantaranya ada yang mengemukakan bahwa berpikir merupakan suatu kegiatan psikis untuk mencari hubungan antara dua objek atau lebih. Secara sederhana, berpikir adalah memproses informasi secara mental atau secara kognitif. Secara lebih formal, berpikir adalah penyusunan ulang atau manipulasi kognitif baik informasi dari lingkungan maupun simbol-simbol yang disimpan dalam long term memory. Jadi, berpikir adalah sebuah representasi simbol dari beberapa peristiwa atau item. Sedangkan menurut Drever berpikir adalah melatih ide-ide dengan cara yang tepat dan seksama yang dimulai dengan adanya masalah. Menurut Solso berpikir adalah sebuah proses dimana representasi mental baru dibentuk melalui transformasi informasi dengan interaksi yang komplek atribut-atribut mental seperti penilaian, abstraksi, logika, imajinasi, dan pemecahan masalah. Dari pengertian tersebut tampak bahwa ada tiga pandangan dasar tentang berpikir yaitu : 1. Berpikir adalah kognitif, yaitu timbul secara internal dalam pikiran tetapi dapat diperkirakan dari perilaku. 2. Berpikir merupakan sebuah proses yang melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan dalam sistem kognitif. 3. Berpikir diarahkan dan menghasilkan perilaku yang memecahkan masalah atau diarahkan pada solusi. Definisi yang paling umum dari berpikir adalah berkembangnya ide dan konsep di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam diri seseorang yang berupa pengertian-perngertian. Dari gambaran ini dapat dilihat bahwa berpikir pada dasarnya adalah proses psikologis. Kemampuan berpikir pada manusia alamiah sifatnya. Manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki kemampuan ini dengan tingkat yang relatif berbeda. Jika demikian, yang perlu diupayakan dalam proses pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini, dan bukannya melemahkannya. Para pendidik yang memiliki kecenderungan untuk memberikan penjelasan yang "selengkapnya" tentang satu material pembelajaran akan cenderung melemahkan kemampuan subjek didik untuk berpikir. Sebaliknya, para pendidik yang lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian pengertian-pengertian atau konsep-konsep kunci yang fungsional akan mendorong subjek didiknya mengembangkan kemampuan berpikir mereka. Pembelajaran seperti ini akan menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan kesimpulan-kesimpulannya secara mandiri. Tujuan berpikir adalah memecahkan permasalahan tersebut. Karena itu sering dikemukakan bahwa berpikir itu adalah merupakan aktifitas psikis yang intentional (berpikir tentang sesuatu). Di dalam pemecahan masalah tersebut, orang menghubungkan satu hal dengan hal yang lain hingga dapat mendapatkan pemecahan masalah. B. Proses Berpikir Menurut para ahli logika, mengemukakan adanya tiga langkah atau proses dari berpikir, yakni : 1. Membentuk Pengertian Membentuk pengertian dapat diartikan sebagai suatu perbuatan dalam proses berpikir (dengan memanfaatkan isi ingatan) bersifat riel, abstrak dan umum serta mengandung sifat hakikat sesuatu. Dengan rumusan pengertian seperti tersebut, maka pengertian dan tanggapan dapat dibedakan sebagai berikut : a. Pengertian merupakan hasil dari proses berpikir, sedang tanggapan adalah hasil pengamatan. b. Pengertian hanya mengandung sifat hakikat dari luasnya, tanggapan memiliki sifat – sifat riildari benda – benda yang diamati. c. Pengertianbersifat abstrak dan umum, tanggapan bersifat konkret dan individual. d. Kita dapat mempunyai pengertian tentang sesuatu yang tidak bersifat kebendaan semisal malaikat. Taanggapan selalu berhubungan dengan sesuatu benda tertentu. Pengertian dapat dibedakan menjadi pengertian empiris dan pengertian ilmiah. Jenis pengertian pertama diperoleh melalui pengalaman masing – masing individu, kareena itu pengertian individu yang satu dengan yang lainnya dapat berbeda. Sementara pengertian ilmiah adalah pengertian yang dirumuskan oleh para ahli untuk kepentingan – kepentingan yang bersifat ilmiah. 2. Membentuk Pendapat atau Opini Pembentukan opini atau pendapat ini merupakn lanjutan proes berpikir dengan pengategorian pengertian atas subyek dan predikat, pemberian kualitas dan kuantitas terhadap pengertian, sehingga benar – benar mengandung hubungan arti. Setiap pendapat tersebut dinyatakan dengan bahasa dalam bentuk kalimat. Dengan pemberian kuantitas pada subyek atau pokok kalimat dengan diperoleh pendapat yang universal, partikuler, dan singular. Disamping itu ada pembentukan pendapat dengan cara pemberian kualitas pada predikatnya. Dengan pembentukan ini diperoleh pendapat yang positif, negative, dan modaliter, umpamanya ada pendapat rumah indah ( pendapat positif), rumah tidak indah (pendapat negatif), rumah itu mungkin tidak kokoh (modaliter). Pendapat atau opini dapat diartikan sebagai hasil pekerjaan pikiran (otak) dalam meletakkan hubungan antara tanggapan sesuatu dengan yang lainnya, antara pengertian yang satu dengan pengertian yang lainnya dan dikatakan dalam suatu kalimat. 3. Membentuk Kesimpulan Kesimpulan dapat diartikan sebagai membentuk pendapat baru yang berdasarkan pendapat – pendapat lain yang sudah ada. Di dalam menarik kesimpulan, seseorang dapat menggunakan bermacam – macam cara yang secara kronologis meliputi hal – hal berikut: a. Kesimpulan yang ditarik atas dasar analogi. Yaitu dimana seseorang yang sedang berusaha mencari hubungan dari peristiwa – peristiwa atas dasar adanya persamaan – persamaan atau kemiripan – kemiripannya. b. Kesimpulan yang ditarik atas dasar induksi sintesis. Yaitu metode berpikir, bertolak dari pengertian yang rendah melompat kepada pengertian yang lebih tinggi, kemudian ditarik kesimpulan secara umum. Berangkat dari pengetahuan yang khusus dan fakta sampai pada pengertian yang lebih umum dengan ciri yang umum. c. Kesimpulan yang ditarik atas dasar deduksi analitis. Yaitu metode berpikir yang bertolak belakang dari pengertian lebih tinggi / umum, melompat kepada pengertian yang lebih rendah, dimana seseorang berangkat dari anggapan / proposisi umum menuju pada anggapan yang lebih khusus. Salah satu kesimpulan secara deduktif adalah dengan silogisme. C. Berpikir Kreatif Inti dari berpikir ialah menemukan problem solving. Namun, dalam beberapa analisis data seseorang, ia menemukan hal baru yang bisa saja belum ada sebelumnya. Seperti dalam dunia para pembuat cerita, ia menemukan ide dalam cerita barunya. Ilmuwan, ia menemukan landasan teori yang akurat dalam percobaannya. Walaupun begitu, segala sesuatu yang didapatkan dalam hal ini berupa ide baru dari hasil berpikir kreatif, kita harus tetap menggunakan teori-teori yang pernah ada sebelumnya. Dalam berpikir kreatif, ada beberapa tingkatan atau stages sampai seseorang memperoleh sesuatu hal yang baru atau pemecahan masalah. Tingkatan-tingkatan itu adalah: 1. Persiapan (preparation) Yaitu tingkatan seseorang memformulasikan masalah, dan mengumpulkan fakta-fakta atau materi yang dipandang berguna dalam memperoleh pemecahan yang baru. 2. Tingkat inkubasi Yaitu berlangsungnya masalah tersebut dalam jiwa sesorang, karena individu tidak sengaja memperoleh pemecahan masalah. 3. Tingkat pemecahan atau iluminasi Yaitu tingkat mendapatkan pemecahan masalah, orang mengalami “Aha”, secara tiba-tiba memperoleh pemecahan tersebut. 4. Tingkat evaluasi Yaitu mengecek apakah pemecahan yang diperoleh pada tingkat iluminasi itu cocok atau tidak. Apabila tidak cocok lalu meningkat pada tingkat berikutnya 5. Tingkat revisi Yaitu mengadakan revisi terhadap pemecahan yang diperolehnya. Orang yang berpikir kreatif mempunyai beberapa macam sifat mengenai pribadinya yang merupakan original person, yaitu : 1. Memilih fenomena atau keadaan yang kompleks 2. Mempunyai psikodinamika yang kompleks, dan mempunyai skope pribadi yang luas. 3. Dalam jugment-nya lebih mandiri. 4. Dominan dan lebih besar pertahanan diri (moreself-assertive). 5. Menolak suppression sebagai mekanisme kontrol. Hambatan-hambatan yang mungkin timbul dalam proses berpikir kreatif dapat disebabkan antara lain karena data yang kurang sempurna sehingga masih banyak lagi data yang harus diperoleh, dan data yang ada dalam keadaan confuse (data yang satu bertentangan dengan data yang lain) sehingga hal ini akan membingungkan dalam proses berpikir. Kekurangan data dan kurang jelasnya data akan menjadikan hambatan dalam proses berpikir seseorang, lebih-lebih jika datanya bertentangan satu dengan yang lain, misalnya dalam cerita-cerita detektif. Karena itu ruwet tidaknya suatu masalah, lengkap tidaknya data akan dapat membawa sulit tidaknya dalam proses berpikir seseorang. D. Metode Berpikir Islami Oleh karena berpikir adalah suatu aktivitas yang dapat dilakukan oleh semua orang, baik muslim atau nonmuslim, yang akan menghasilkan kesimpulan yang beragam, sudah barang tentu diperlukan suatu kerangka yang dapat mengarahkan manusia dalam berpikir untuk mencapai sasarannya. Sebab, tanpa rumusan pola itu, manusia akan dapat terperangkap pada cara berpikir yang lepas kendali. Konsekuensinya tidak segampang yang dibayangkan manusia. Akan tetapi, tidak menemukan kebenaran itu dalam Islam identik dengan kesesatan. Allah berfirman dalam surat Yunus : 32               Maka (Zat yang demikian) Itulah Allah Tuhan kamu yang Sebenarnya; Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? (Qs. Yunus : 32) Jika mengamati petunjuk-petunjuk Al-Qur'an, hadits Nabi, dan pengalaman sejarah intelektual dalam Islam, maka dapat dikemukakan beberapa metode atau dapat disebut sebagai kaidah berpikir dalam Islam, yang mengantarkan seseorang berpikir secara proporsional dan benar untuk selanjutnya keluar dengan pemikiran yang jernih, lurus, dan relefan dengan kehendak Allah SWT. Metode tersebut adalah sebagai berikut: a. Wahyu adalah satu-satunya sumber Aqidah dan Syari'ah Setiap peneliti muslim diminta agar menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai satu-satunya sumber dalam konsep dan operasional sekaligus, tanpa memilah-milahnya, dalam arti bahwa kita sebagai muslim hendaknya mengajukan pertanyaan kepada Al-Qur'an, kemudian mendengar jawabannya dari Allah SWT. Akan tetapi, mencari jawaban itu hanya dari Al-Qur'an dan As-Sunnah saja, bukan dari sumber-sumber lainnya. Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai wahyu dari langit adalah hakikat yang sudah merupakan aksioma dan menjadi prinsip Islam. Akan tetapi, sayangnya banyak peneliti dan kaum intelektual melangkai prinsip ini, sengaja atau tidak. Mereka cenderung menggunakan sumber-sumber produk manusia, di samping sumber-sumber utama Islam. Mereka juga menyimpan seperangkat pemikiran, teori, dan hipotesa sebagai peninggalan peradaban kuno yang cenderung berlainan dengan konsep Islam. Kondisi seperti ini sudah tentu tidak sejalan dengan kaidah menempatkan wahyu sebagai satu-satunya sumber dalam jalur aqidah, hukum, dan maslaah metafisik. Seharusnya sikap muslim pencari kebenaran ketika membaca Al-Qur'an mengosongkan pikirannya dari seluruh jenis teori dan konsep yang dihasilkan manusia tanpa dasar wahyu. b. Hubungan antara wahyu, akal, dan metode interpretasi rasional Kaidah ini berkaitan dengan penempatan posisi akal dan perannya dalam menangkap pesan (teks) Illahi. Pada prinsipnya, Islam telah menetapkan adanya dua alam yang harus dibenarkan manusia sebagi prasarat diterima keislamannya. Kedua alam itu ialah alam ghaib dan alam nyata. Spesifikasi alam ghaib ialah berada di luar batas ruang dan waktu. Dua kawasan yang merupakan jalur operasi akal manusia. Alam ghaib seperti, Allah, malaikat, langit, jin, akhirat adalah kawasan yang berada di luar jangkauan manusia. Manusia tidak bakal mengetahuinya secara rinci dengan mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Fungsi akal di sini sekadar menerima informasi, memahami, dan membenarkan. Adapun alam nyata, objek dan komponennya berada dalam batas ruang dan waktu. Akal manusia bertugas menyelidikinya untuk sampai pada hakikat. Atas dasar ini, kebenaran di sekitar alam ghaib tidak dapat didiskusikan secara rasional dan menggunakan logika, tetapi kita terima melalui teks secara apa adanya. Peran akal berada pada batas pengklasifikasian, penempatan, dan penetapan, agar keluar dengan kesimpulan yang general dan sempurna serta tidak bertentangan dengan akal dan logika. Dalam Islam dikenal dua kategori hakikat: hakikat tawqifiyah yang berskala ghaib dan didapatkan melalui informasi Al-Qur'an dan As-Sunnah. Posisinya berada di atas akal manusia. Dan, hakikat tawfiqiyah yang sesungguhnya menjadi objek dan lapangan akal manusia. Kekeliruan banyak orang, seperti perkembangan filsafat Yunani, mencampuradukkan dua kategori tersebut, sehingga membebankan kepada akal hal-hal yang sebenarnya berada di luar kemampuannya. Manusia juga sering tertipu ketika akal mampu memerankan fungsinya secara baik dan prima pada ruang "tawfiqiyah", mengira bahwa akal juga mampu menembus wilayah "tawqifiyah", atau setidak-tidaknya tergiur untuk menerobos ke kawasan itu. Pada zaman modern ini, kita perhatikan akal manusia mampu menemukan hal-hal menakjubkan di alam materi. Lalu kita mengira bahwa akal yang selama ini mampu menciptakan pesawat, roket, menghancurkan atom, membuat bom hidrogen, menjelajah ruang angkasa, juga memiliki kemampuan untuk merumuskan peraturan yang menata hidup manusia. Kita lupa bahwa keberhasilan yang diraih akal selama ini ketika ia beroperasi pada jalurnya secara natural, karena memang ia dipersiapkan untuk itu. Akan tetapi, sekiranya akal beroperasi di jalur "alam manusia", berarti ia beroperasi dalam alam yang tidak mengenal batas dan amat kabur. Akibatnya, akal menemukan jalan buntu dan keluar dengan konklusi yang keliru. c. Mencari kebenaran dengan sikap jernih. Yang dimaksud di sini ialah sikap objektif sebagai pencari kebenaran dari wahyu Al-Qur'an, bukan dengan tendensi tertentu, seperti mencari-cari dalil untuk melemahkan pendapat lawan. Hakikat Al-Qur'an adalah parameter untuk mengukur kebenaran suatu paham, teori, dan filsafat-filsafat yang ada, oleh karena itu harus diketahui secara utuh dan dengan cara langsung dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sebaliknya, perjalanan yang ditempuh pemikiran manusia untuk sampai kepada kebenaran amat lamban, sebab ia tidak mampu menemukan kebenaran secara spontan tanpa bantuan kekuatan lain. d. Kebenaran dalam Al-Qur'an senantiasa parallel. Yang dimaksud di sini ialah keharusan membandingkan antara kesimpulan yang didapat dari Al-Qur'an--melalui metode deduktif--dengan kebenaran-kebenaran Al-Qur'an yang mutlak. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa kebenaran dalam Al-Qur'an tidak akan mengalami kontradiksi dengan sesamanya, karena ia berasal dari sumber yang sama. Jika ditemukan adanya kelainan, secara otomatis kesimpulan yang diperoleh adalah keliru dan ditolak. Hal ini didasarkan pada dua ketentuan yang aksiomatik dan disepakati oleh kaum muslimin dan didukung oleh metodologi ilmiah dalam kritik sejarah, yaitu sebagai berikut: 1. Semua ayat-ayat Al-Qur'an berasal dari Allah SWT, dan Allah menjanjikan pemeliharaan mutlak atas kesucian Al-Qur'an. 2. Al-Qur'an secara keseluruhan merupakan satu kesatuan yang utuh. Antara sebagian dengan bagian lainnya bersesuaian dan tidak ditemui kontradiksi. e. Bersikap jujur, tanpa prakonsepsi. Peneliti Al-Qur'an dituntut agar bersikap jujur dan ikhlas untuk mencri kebenaran murni. Peneliti hendaknya membebaskan dirinya dari pengaruh hawa nafsu, kepentingan, fanatisme kelompok, dan paham yang dianutnya. Hal ini memang berkaitan kepada individu peneliti dan mentalitas serta moralitasnya. Akan tetapi, manusia adalah satu kesatuan. Memilah-milah antara sarana dan kemampuannya dalam memberi interpretasi atas aktivitas manusia adalah cara yang keliru. Tidaklah semua orang yang membaca Al-Qur'an akan mendapat petunjuk. Bahkan, ada yang membacanya tetapi disesatkan oleh Allah. Lalu, siapa yang mendapat petunjuk dan siapa pula yang tersesat? Jawabannya dari Al-Qur'an itu sendiri. Menurut Al-Qur'an, motivasi juga memegang peran penting dalam menerima kebenaran atau menolaknya. Allah memberikan gambaran, perumpamaan, peringatan, dan janji-janji agar dipikirkan, tetapi orang-orang kafir justru semakin menyimpang dari jalan yang benar. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. Berpikir adalah sebuah proses dimana representasi mental baru dibentuk melalui transformasi informasi dengan interaksi yang komplek atribut-atribut mental seperti penilaian, abstraksi, logika, imajinasi, dan pemecahan masalah. Tujuan berpikir adalah memecahkan permasalahan tersebut. Karena itu sering dikemukakan bahwa berpikir itu adalah merupakan aktifitas psikis yang intentional. 2. Ada tiga langkah atau proses dari berpikir, yakni : membentuk pengertian, membentuk pendapat, dan membuat kesimpulan. 3. Dalam berpikir kreatif, ada beberapa tingkatan atau stages sampai seseorang memperoleh sesuatu hal yang baru atau pemecahan masalah. Tingkatan-tingkatan itu adalah: Persiapan (preparation), tingkat inkubasi, tingkat pemecahan atau iluminasi, tingkat evaluasi, dan tingkat revisi. 4. Beberapa metode atau dapat disebut sebagai kaidah berpikir dalam Islam, yang mengantarkan seseorang berpikir secara proporsional dan benar untuk selanjutnya keluar dengan pemikiran yang jernih, lurus, dan relefan dengan kehendak Allah SWT. Metode tersebut adalah sebagai berikut: Wahyu adalah satu-satunya sumber Aqidah dan Syari'ah, Mencari kebenaran dengan sikap jernih, Kebenaran dalam Al-Qur'an senantiasa parallel, Bersikap jujur, tanpa prakonsepsi. B. Saran 1. Kepada guru diharapkan lebih mengetahui lagi cara berpikir yang baik karena guru sebagai pendidik akan menuntun murid – muridnya dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya selama proses belajar mengajar. 2. Kepada pelajar diharapkan mampu memahami proses berpikir kreatif untuk lebih bisa memahami pelajaran yang selalu dihadapinya dan mampu menyelesaikan tugas – tugas sekolah. DAFTAR RUJUKAN Adelia, Winda, Kehebatan berpikir Positif. Jogjakarta : Sinar Kejora 2011. Baharuddin, Psikologi Pendidikan. Yogyakarta : Ar Ruzz Media Group, 2007. Departemen Agama RI, Al quran dan terjemahannya. Surabaya : Mahkota,2002. De porter, Bob, Quantum teaching .Bandung : Kaifa, 2007. http://karyasonin.blogspot.com/2012/06/pandangan-psikologi-dalam-berpikir.html. http://www.psb-psma.org/content/blog/proses-berpikir. http://pusatilmupsikologi.blogspot.com/2012/03/teoriberpikirdalampsikologi.html. http://alislamu.com/artikel/745-metode-berpikir-islami.html. http://alislamu.com/artikel/745-metode-berpikir-islami.html. Winkel, W.S, Psikologi Pengajaran. Jakarta :PT Gramedia,1987.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar